MAKASSAR — Maraknya perang kelompok dan aksi kejahatan jalanan di Kota Makassar memicu sorotan tajam dari Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Sulawesi Selatan.
Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan (Polda Sulsel) dan Polrestabes Makassar didesak segera mengevaluasi efektivitas strategi pengamanan warga.
Bentrokan yang terus berulang dinilai meresahkan dan mengikis rasa aman masyarakat di ruang publik.
Ketua JMSI Sulsel, Ilham Husen, menegaskan bahwa fenomena ini menandakan perlunya pembenahan total dalam strategi pencegahan dan sistem deteksi dini oleh aparat kepolisian.
“Maraknya kembali perang kelompok dengan pola yang semakin brutal ini menunjukkan adanya celah dalam pemetaan potensi konflik dan pola pengamanan preventif. Jangan sampai masyarakat merasa tidak aman di kotanya sendiri,” kata Ilham Husen di Makassar, Selasa (21/10/2026).
Perkuat Intelijen dan Putus Provokasi Media Sosial
Menurut Ilham, penanganan kejahatan jalanan dan perang kelompok di Makassar tidak cukup sekadar membubarkan massa atau menangkap pelaku pasca-kejadian.
Polda Sulsel dan Polrestabes Makassar diminta memperkuat jaringan intelijen, memetakan titik rawan bentrokan, serta menindak tegas para pelaku tanpa pandang bulu.
Selain aksi lapangan, JMSI Sulsel menyoroti maraknya provokasi media sosial yang kerap menjadi pemicu utama bentrokan fisik.
Tim patroli siber dan intelijen kepolisian dituntut lebih responsif dalam mendeteksi dan memutus potensi ancaman sebelum berkembang menjadi konflik terbuka.
“Konflik sering kali dipicu oleh aksi saling tantang di media sosial sebelum akhirnya pecah di lapangan. Karena itu, rantai provokasi media sosial harus diputus sebelum menimbulkan korban jiwa maupun kerugian material,” tegasnya.
Sinergi Lintas Sektor untuk Solusi Akar Masalah
Guna menciptakan keamanan Makassar yang berkelanjutan, JMSI Sulsel mendesak kepolisian tidak berjalan sendiri.
Polda Sulsel diharapkan dapat meningkatkan koordinasi dengan Pemkot Makassar, tokoh masyarakat, akademisi, hingga elemen pemuda untuk merumuskan langkah pencegahan yang menyasar akar persoalan.
Evaluasi menyeluruh dinilai sangat krusial agar penanganan perang kelompok di Makassar tidak lagi bersifat reaktif, melainkan preventif dan presisi demi memberikan jaminan kepastian hukum serta rasa aman bagi seluruh warga.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar