-->

Notification

×
Copyright © Best Viral Premium Blogger Templates

Iklan

Pemkot Makassar Gandeng Trauma Kota Gelar Performance Art Atasi Kejahatan Jalanan

Redaksi
3 Mar 2026, 02.35 WIB Last Updated 2026-03-02T18:35:27Z

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menerima audiensi komunitas Trauma Kota di Balai Kota Makassar, Senin (2/3/2026), membahas performance art isu kejahatan jalanan.

MAKASSAR, SULSELHARIINI.COM - Rasa aman warga dalam menggunakan ruang publik di Kota Makassar kembali menjadi perhatian. 


Maraknya aksi liar dan tindak kriminal, khususnya yang dikaitkan dengan geng motor, dinilai berdampak langsung pada psikologis masyarakat. 


Untuk menjawab keresahan tersebut, Pemerintah Kota Makassar tidak hanya mengandalkan penegakan hukum, tetapi juga mendorong pendekatan kultural melalui seni.


Komitmen itu ditegaskan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, saat menerima audiensi komunitas Trauma Kota di Kantor Balai Kota Makassar, Senin (2/3/2026). 


Pertemuan tersebut membahas rencana kegiatan performance art yang mengangkat isu kejahatan jalanan sebagai bentuk respons sosial dan edukasi publik.


Penggagas kegiatan, Soekarno-Hatta, mengungkapkan bahwa sejak 2012 hingga kini Kota Makassar masih menghadapi persoalan kejahatan jalanan yang dilakukan oknum geng motor. 


Menurutnya, fenomena tersebut bukan sekadar persoalan hukum, tetapi juga masalah sosial dan psikologis yang berpotensi memicu trauma kolektif serta memengaruhi citra kota.


Ia menegaskan, pihaknya tidak menyamaratakan seluruh komunitas geng motor sebagai pelaku kriminal. 


Di sisi lain, terdapat kelompok yang aktif membangun solidaritas dan kegiatan positif. Karena itu, pendekatan yang diambil bersifat komprehensif dan tidak menggeneralisasi.


Program Trauma Kota dirancang sebagai ruang kolaborasi antara seni, masyarakat, dan pemerintah. Rangkaian kegiatannya meliputi pameran foto, seni performansi, diskusi publik, hingga lokakarya. 


Lima kecamatan yang dinilai memiliki dampak signifikan terhadap fenomena geng motor menjadi lokasi pelaksanaan, yakni Kecamatan Ujung Pandang, Mariso, Mamajang, Rappocini, dan Manggala.


Pameran foto akan menampilkan dokumentasi serta refleksi visual terkait fenomena geng motor. 


Diskusi publik menghadirkan narasumber dari pihak kecamatan dan penggagas program, serta direncanakan melibatkan psikolog eksternal. Sementara pertunjukan seni performansi akan digelar di ruang publik sebagai media refleksi bersama.


Sebagai bagian dari pematangan konsep, lokakarya telah berlangsung sejak Februari 2026. 


Workshop pengembangan karya performansi itu sudah dilaksanakan tiga kali, dengan sesi terakhir pada Sabtu, 28 Februari 2026 di Studio Kala Teater.


Program ini mengusung pendekatan seni partisipatif yang menitikberatkan kolaborasi antara warga, seniman, dan para pemangku kepentingan. 


Pendekatan kultural tersebut dinilai strategis dalam merespons persoalan sosial perkotaan.


“Adapun tujuan utama dari program ini adalah memulihkan rasa aman warga di ruang publik Kota Makassar, membuka ruang dialog dan refleksi melalui medium seni,” ujar Soekarno-Hatta. 


Ia menambahkan, program ini juga bertujuan mendorong keterlibatan aktif warga dan pemerintah dalam menciptakan ruang kota yang aman dan ramah.


Sasaran kegiatan mencakup masyarakat Kota Makassar secara luas, generasi muda yang kerap terlibat fenomena geng motor, aparat penegak hukum, serta pemangku kepentingan lintas sektor.


Untuk jadwal pelaksanaan, kegiatan perdana dijadwalkan pada 21 April 2026 di Kantor Kecamatan Ujung Pandang. Pameran foto akan digelar satu hari penuh dengan konsep instalasi di aula kantor kecamatan. 


Keesokan harinya dilanjutkan diskusi publik dan pertunjukan seni performansi, lalu ditutup kembali dengan pameran foto pada hari berikutnya.


Setelah Ujung Pandang, kegiatan berlanjut ke Kantor Kecamatan Mariso dengan konsep serupa. 


Agenda berikutnya dilaksanakan di Kelurahan Mamajang Dalam, yang dipilih karena memiliki aula di lantai satu sehingga lebih mudah diakses masyarakat dibandingkan aula di lantai tiga.


Pada 6 Mei 2026, rangkaian acara berlangsung di Kantor Kelurahan Balla Parang, Kecamatan Rappocini, dengan format pameran foto, diskusi publik, seni performansi, dan pameran lanjutan. Kegiatan kemudian ditutup di Kecamatan Manggala.


Di setiap lokasi, foto yang dipamerkan akan berbeda dan disesuaikan dengan konteks wilayah masing-masing, termasuk hingga kecamatan lainnya, sebagai bentuk edukasi dan kolaborasi berkelanjutan.


Melalui sinergi ini, Pemerintah Kota Makassar berharap pendekatan berbasis seni dapat memperkuat kesadaran kolektif, memperluas dialog sosial, dan menghadirkan ruang kota yang lebih aman serta inklusif bagi seluruh warga. (*)


Komentar

Tampilkan

  • Pemkot Makassar Gandeng Trauma Kota Gelar Performance Art Atasi Kejahatan Jalanan
  • 0

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terkini

Topik Populer

Bisnis (6) Ekonomi (14) Hukum (5) Infrastruktur (12) Kampus (5) Kriminal (2) Metro (54) Nasional (20) News (17) Olahraga (2) Otomotif (2) Pendidikan (14) Politik (22)

Cari Berita